Filed under: i'z Hatiy
Kesedihan merupakan hal yang terungkap dalam pikiran dan perasaanku kini.
Benar-benar sedih,,
dan makin sedih lagi di saat ini tiada satu orang pun yang bisa jadi sandaran.
Latar lagu yang mendukung, menjadikan suasana ini menjadi makin sendu. Yup, dengarkanlah salah satu lagu Ost. The Legend of Brown Sugar Chivalries yang mellow abis.
Jadi pengen beneran mau netes,,, T_T
Enggak ada yang bisa jadi sasaran tumpahan curhat,, bahkan di saat aku merasa ‘orang’ itu cocok, sepertinya.. memang bukan dia, untuk saat ini. Aku maklum dan sadar, dan hanya bisa mencoba menerima kenyataan.
Siapakah sahabat yang aku tunggu?..
Di bawah sinar matahari,
ku cari kau di seluruh penjuru dunia
Saat malam, kuberusaha dengar senyap suaramu
karena kuyakin kau tak jauh dariku
Engkau kini, sangat sulit kugapai
Engkau kini pun, belum pasti arahmu kan kemana
tapi entah mengapa
aku selalu merasa dekat denganmu
Namun di saat kubertemu denganmu
ku merasa ragu,
akankah hati itu hanya untukku
Pernah merasa bingung dengan perasaanmu sendiri? Itu yang kurasakan sekarang.
Bingung
Segala pertanyaan dan anggapan negatif spontan muncul
dalam bayang dan sela-sela udara
yang mengalir dekatku
rasakanku yang kini sedang galau
Sumpah,, aku merasa sendiri.
Sendiri bukan hal yang menyenangkan untuk sekarang. Aku butuh kamu, aku butuh kalian…… Sahabat-sahabatku tercinta
Gue hari ini sediiiiiih banget! Gue ngerasa gue tuh bukan apa-apa dan bukan siapa. Gue bingung banget… apa bisa gue hidup dengan dunia seperti ini?
Air mata terus berlinang, di saat semua orang sedang asyik, ketawa-ketiwi dan canda selalu melekat pada mereka. Aku senang, mereka enggak tahu. Tapi aku sedih, di saat aku “butuh”… enggak ada yang sepertinya mengerti aku.
Aku mengerti introvert bukan alasan, dan bukan akar. Aku sudah berusaha memahami apa mauku dan apa yang ingin aku capai. Tapi dari semuanya, enggak jarang hanya berujung pada janji yang aku sendiri enggak bisa pastiin kapan hari itu akan tiba.
Aku merasa…
Sedih
Galau
Dan putus harapan.
I feel alone in this world.
Aku enggak tahu, harus apa yang kuperbuat setelah ini. Aku juga enggak tahu, apa aku akan terus bisa bertahan dengan seperti ini. Jujur, air mata ini terus-menerus keluar, tanpa arti. Karena yang mengerti, cuma diriku sendiri.
Aku benar-benar kehilangan pegangan.
Aku mengerti dengan situasi dan lingkungan yang ada di sekitarku sekarang. Tapi aku benar-benar enggak punya kekuatan untuk bisa melakukan apa-apa. Aku enggak punya pegangan, aku enggak bisa maju, dan aku masih di sini.
Aku tahu dan sudah memprediksi sebelumnya, aku pasti akan kehilangan dia, mereka… teman-temanku sendiri. Aku sangat tahu hari itu akan tiba…
Dan yang sekarang kubutuhkan, hanya waktu…
Aku benar-benar butuh waktu untuk memahami alasan Tuhan memberiku jalan seperti ini…
Sekolah, sudah jadi masa yang sudah lewat..
Sekolah, telah menjadi kenangan abadi,
yang takkan pernah terlupakan dan lekang oleh waktu.
Karena semua yang terbaik, benar2 kucurahkan pada masa gemilang itu.
Masa gemilang… mengingat kata gemilang, kadang aku merasa geli. Kadang pun, merasa… “Wah, itu gue banget”… 2 tahun pada kelas yang sama, cukuplah untuk mengenal mereka secara mendalam secara jumlahnya masih kurang dari 20. Dan di masa itu, keluarlah semua tabiat asliku (hihihi ^^) and thank you banget buat teman-temanku yang sudah siap menerima aku apa adanya.
Mengenang 2 tahun terakhir di bangku putih abu-abu, satu hal yang enggak bisa lepas. Makanannya… Aku sudah jatuh cinta ada mie yang dijual di sana. And because of that, kemarin aku balik ke sekolah untuk menyantap makanan favoritku itu.
Lama juga tak ke sana (bisa sudah berbulan-bulan juga), anak-anak baru semakin sedikit dan tiba-tiba aku merasa “SMA? Masih zaman?”, mengingat aku sudah melepas seragam kebersamaan itu.
Keinginan untuk menyantap mie itu, mengunggahku dan temanku untuk kembali ke sana pada jam pelajaran siswa. Itu untuk menghindari si empunya mie, melewatkan kami (yang pernah jadi customer setianya). Alhasil, sebelum pergi ke sana… aku terpuruk dalam dilema (yang seharusnya, sebenarnya tak jadi masalah).
“Waktu itu gue pernah bilang ke diri gue… Gue enggak akan balik ke sekolah, sebelum gue mendapatkan pembuktian akan kesuksesan gue…”
Waktu itu aku berharap, mendapat satu saja keberhasilan setelah keluar dari sekolah, baru setelah itu tercapai aku berani untuk pasang muka di sekolah. Tapi… toh, akhirnya keinginan itu kalah oleh hasrat makan mie ^^
Kenapa aku bisa berkomitmen seperti itu?
Tergantung hati masing-masing juga, sih. Aku… cuma punya keinginan agar para guruku bangga terhadapku. Sikapku dan semua yang aku lakukan di sekolah selama bertahun-tahun, enggak sia-sia. Aku mau mereka bisa melihat aku sebagai diriku yang gigih, kuat, dan beda dari aku yang rapuh semasa di sekolah.
And hope it will become real soon… ^^