Valuable Apology

Apology is a lovely perfume; it can transform the clumsiest moment into a gracious gift.
~Margaret Lee Runbeck


Tapi bagaimana membuat sebuah permintaan maaf menjadi semahal berlian, bukan hanya semurah kacang rebus yang dijual di kaki lima?

A stiff apology is a second insult…. The injured party does not want to be compensated because he has been wronged; he wants to be healed because he has been hurt.  ~G.K. Chesterton

Ada yang mengatakan bahwa permintaan maaf adalah segalanya, bagai superglue yang akan merekatkan kembali sesuatu yang telah rusak. Tapi bagaimana kalau superglue itu hanyalah kedok? Apakah minta maaf semudah menjentikkan jari-jari tangan?

Kalau Tao Ming Tse di drama Meteor Garden bertahun-tahun silam, mengatakan “Kalau minta maaf begitu mudah, untuk apa ada polisi?” Coba telaah kalimat itu matang-matang dengan sudut pandang yang bermacam-macam, apa yang mungkin kita dapat?

 

Maaf yang dipandang berharga adalah maaf yang mengartikan sebuah kesadaran dan perubahan diri atas lesson yang telah seseorang dapat. Pikiran menjadi berkembang hingga mencapai titik tertentu yang sekaligus membantunya untuk dewasa. Menyadari sebuah kesalahan bukan hanya sekali menyadari atas kesalahan itu namun menyadari satu titik dilirik dari keseluruhan di sekitarnya. Memang sesuatu yang dianggap salah tidak bisa begitu saja hanya karena satu titik namun harus diselidiki dari faktor-faktor lain yang menyelimutinya. Apabila kesemua faktor itu telah dicermati, barulah kita dapat menyuarakan apakah itu kesalahan atau bukan, dan dari pihak mana. Intinya, janganlah memandang sesuatu hanya dari pandangan subjektifnya saja, melainkan objektif. Just for your information, pandangan subjektif erat disandarkan dengan istilah self labeled, self-centered, and egoism.

Seseorang pasti berharap setelah permintaan maaf, ada sebuah perubahan yang terjadi dalam kehidupan semuanya. Mengharapkan ketenangan, begitu wajar terdengar. Tapi untuk mengembalikan sebuah situasi… sulitkah itu? Iya, jawabannya. Karena kepercayaan itu mahal harganya. Sesuatu yang telah dirusak, akan merobek sebuah kepercayaan. Dan apabila coba untuk direkatkan, belum tentu kepercayaan itu akan menghapus kesemua sakit yang ia rasakan. Itulah kenyataannya.

Karena apa? Manusia jadi lebih bersifat defensif, menghindari sesuatu yang memang bisa dihindari, dan dalam situasi parahnya bisa dikatakan trauma atau anti. Hal ini wajar sekali terjadi. Maka dari itu lebih baik pupuk sebuah tanggung jawab dan kebijaksanaan dalam arti yang luas. Maaf yang hanya terlontar dari mulut, bukan hati dan pikiran, adalah sebuah kata maaf yang bersifat kedok karena belum tentu orang tersebut telah menyadari sesuatu dan memperbaikinya karena pada nyatanya hal tersebut meniliki kemungkinan untuk kembali terulang. Teman yang baik, adalah teman yang tidak akan menjerumuskan temannya, namun berbalik mendoakannya untuk sebuah kesadaran diri yang harus ia miliki untuk hidupnya di masa yang akan datang. Dan tak kalah penting, konsistensi dan kebijaksanaanlah yang selalu menyertainya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: