Laporan Lalu Lintas Sekilas

Hari Minggu 17 Oktober 2010 lalu saya tengah dalam perjalanan saya menuju sebuah tempat di daerah Jakarta Utara, dan saya (beserta keluarga) menyusuri jalanan besar menuju arah Gajah Mada dari Daan Mogot. Biasanya jalanan yang menjadi alur busway bisa dilewati oleh kendaraan bermotor, namun belakangan berbeda karena telah ada penertiban sehingga kendaraan bermotor dilarang ikut menyusuri jalanan khusus kendaraan beroda empat tersebut.

Namun apa disangka, masih saja ada kendaraan bermotor yang melewatinya. Aneh dan agak bingung saya awalnya karena segerumunan kendaraan bermotor juga ada yang lewat jalan bawah (tidak pada jalan busway) tapi saya berpikir, “ya sudahlah…” Ternyata saat hendak beranjak lebih atas lagi, ada kendaraan bermotor yang putar balik. Oops, jadi ini…

Di tengah sana ada petugas lalu lintas yang tengah anteng menangkap mangsa yang melanggar peraturan tersebut. Dalam perbincangan kami semua, “Mangsa akan terus ada sepertinya…” Padahal siang itu terik sekali tapi para petugas masih sigap dan semangat ada di sana. Kami pun menyusuri kembali jalanan tinggi itu dan terus dengan, “Eaaa…” ketika dari arah berlawanan satu persatu kendaraan bermotor menyurusi jalan tersebut.

TKH DKV 2010

TKH 2010 sudah di depan mata dan saya siap untuk berangkat pagi ini bersama teman-teman DKV. Pasti akan seru sekali di sana 🙂

Kangen Badak

Tadi saya pergi ke Mangga Dua untuk sekedar cuci mata. Tak lama kami pun hijrah ke daerah Pluit untuk makan E-Mie. E-mie di sana terkenal enak dan saya pun mencobanya. Ketika ditanya, “Minum apa?” Sekejap bingung. Akhirnya melihat meja sebelah, ada sebotol “badak”, langsung pesan yang itu!

Badak itu sejenis merk minuman. Biasanya terkenal di daerah Medan dan sering ada di tempat makan Tionghoa gitu deh. Minumannya enak dan segar banget. Enggak kalah sama minuman bersoda yang begitu membanjiri ibukota. Oh ya, menurut saya e-mie di sini juga enak banget, setara sama keaslian rasa para pembuat e-mie di Medan, lho.

Dulu waktu saya ke Medan, saya sering meminum minuman Badak ini. Dan kalau dipikir-pikir lagi, kangen juga saya sama Medan.. Hehe.

Jeans Fever

Barusan facebook saya mendapat sebuah tag dari online shop. Kebetulan yang di-tag ke saya itu sepasang sepatu import. Lucu sih, Korea banget tapi… kok kayaknya ada yang bikin saya ingin tersenyum, ya…

Yang kiri itu jepitan rambut mini yang saya beli saat di Medan, tepatnya di Pasar Beruang. Thanks for A Ling Jie. It cost 0,8$. And it is also an imported stuff.

Yang kanan adalah sepatu import yang di-tag ke saya di facebook.

Cukup lucu, bukan? Hehe. Hampir-hampir mirip. Pita dengan bagian tengah dihias dengan manik-manik. All stuff decorated with jeans memang sedang trend di kalangan fashion sekarang. Mulai dari acid washed jeans hingga denim for daily outfit. Denim as outfit, jacket, bag, hingga shoes memang sedang banjir di mana-mana. Ready for the next booming trend?

Tengok Kota Medan

Beberapa minggu lalu saya pergi ke Medan bersama keluarga saya. Cukup mendadak kabar tersebut, membuat di saat pagi hari saya baru bangun dan melangkahkan beberapa langkah keluar kamar saya sudah disambut hangat dengan kabar bahwa siangnya saya dan semuanya akan berangkat ke kota Medan. Ini bukan pertama kali saya ke sana, total sepertinya baru 4 kali.

Oke, di sana keluarga besar telah menanti. Saya akan bercerita tentang sisi singkat Medan. Saat saya sampai di Bandara Polonia Medan, hawanya sudah berbeda dengan di Jakarta. Hmmm… rasanya ini agak sedikit berbeda dengan saat bulan Februari lalu saya ke sini. Bau rokok. Mungkin karena ini bulan puasa jadi orang-orang di sana tidak ada yang merokok, tapi saat Februari lalu saya ke sana dan baru saja sampai di bandara, asap rokok di sana benar-benar menyengat dan… bau. Saya tidak tahu mengapa dengan indra penciuman saya yang satu ini, tapi bila dibandingkan saya lebih bisa menerima bau asap rokok di Jakarta.

Selepas dari bandara saya bersama keluarga pun menuju rumah kerabat di sana. Sembari di jalan yang saya dapat katakan adalah “Saya penasaran dengan alasan tata kota di Medan?” Tahu kenapa? Di sana letak perumahan seperti ada di dalam game GTA, game yang biasanya saya main di komputer. Dengan denah petak-petak dan banyak belokan kanan-kiri, belum lagi lampu merah yang minim (atau bisa saya katakan pelit, ya?), dan satu hal yang buat saya geregetan, kendaraan pribadi di sana sepertinya enggak mau mengalah. Jarang mau  mengalah. Itulah yang terjadi di sana.

Beberapa malam di sana Medan diguyur hujan. Hujan yang cukup deras, bisa dikatakan. Tapi malam-malam berikutnya tidak lagi. Di sana banyak sekali keluarga dan mereka terlihat sangat akrab satu sama lain. Dan hal ini membuat saya berbeda dengan yang lain sehingga saya dikomentari, “Di Jakarta saja, sama-sama di Jakarta saudara satu dengan yang lain jarang bertemu…

Lalu tibalah waktu yang saya (cukup) tunggu-tunggu, yaitu menjelajahi Medan, karena sebelumnya saya memang jarang keluar di sana. Pasar tradisional satu dan lainnya semakin menyusul saya telusuri, pasar besi dan pasar beruang (kami menyebutnya demikian) misalnya. Sama seperti pasar-pasar pada biasanya, mulai dari bahan mentah hingga sandang masyarakat ramai diperdagangkan di sana. Tapi untuk waktu-waktu awal saya di sini, saya tidak memfokuskan diri untuk berbelanja. Yeah, maybe next day…

Mall-mall di sana juga (kabarnya) sudah banyak yang melakukan pembaruan dan hampir sama dengan yang ada di Jakarta. Mall yang saya kunjungi di sana, di antaranya Sun Plaza dan Thamrin Plaza.

Untuk makanan di sana memang sangat dijagokan Miramar Restaurant, restoran dengan makanan khas Melayunya. Jujur, makanan di sini malah melebihi lezatnya makanan Melayu yang biasa saya makan. Pokoknya makanan Miramar itu enak-enak dan layak untuk dicoba bagi yang belum pernah ngerasain gimana taste-nya Miramar.

Tak kalah menarik, sebuah restoran yang baru kali ini saya cicipi di Medan, yaitu Taipan Restaurant. Makanan-makanannya enak-enak, dan bagi pecinta makanan juga wajib banget untuk coba makan di sini. Memang bisa menguras kocek yang agak tinggi tapi akan sebanding dengan kenikmatan dan kenyamanan yang disuguhkan oleh restoran ini. Dagingnya segar, soup-nya enak, dan yang terakhir saya suka adalah puding kelapa dengan tampilan yang sangat menarik. Dengan batok kelapa kecil (seperti batok kelapa Thailand) yang lengkap dengan dagingnya, ditambah dengan puding yang nikmatnya selangit dan dihiasi dengan sekuntum bunga sebagai dekorasi.

Makanan enak yang saya temukan di sana yang dapat dikatakan makanan kecil. Pancake durian. Namanya cukup unik dan pembuatannya terbilang mudah. Saya pernah menyaksikannya sendiri mereka membuatnya, hingga memasukkannya ke dalam lemari pendingin dan siap untuk dijual. Saya pun sudah mencobanya. Rasanya enak, seperti es krim tapi tetap ada duriannya. Cocok untuk dijadikan oleh-oleh untuk orang di Jakarta. Buat kamu para pecinta durian, ini harus dicoba lho… dan bersiaplah merasakan sensasi durian yang segar.

Setelah makanan saya akan ngebahas bagian Medan yang enggak kalah menarik, yaitu belanja. Belanja di mall kayaknya bakal enggak jauh beda dengan mall di Jakarta, maka dari itu saya merambah pasar tradisional yang tak jauh dari tempat saya tinggal. Pasar Besi dan Pasar Beruang saya menyebutnya, entah benar atau tidak. Haha…

Pasar besi, terdengar seperti pasar yang menjual besi? Oh, enggak kok… Hehe. Seperti pasar pada umumnya, di sini menjual makanan, pakaian, sepatu, aksesoris, dan lainnya. Setelah saya menjelajah pasar ini, memang banyak barang import. Mungkin karena letaknya yang dekat dengan perairan dan orang-orang di sini yang sebagian besar keturunan Tionghoa mungkin, yang menyebabkan banyak di-supply-nya barang-barang import. Tapi barang lokal enggak kalah menarik juga, kok. Satu hal yang didapat di sini, yaitu kita tidak bisa mencoba menawar terlalu rendah karena memang di Medan mereka (mungkin) tidak mengambil untung besar. Jadi hanya bisa menawar Rp.5.000,00 atau Rp. 10.000,00 saja.

Pasar beruang, letaknya lebih dekat dengan tempat saya tinggal di Medan. Pasar ini letaknya hanya lurus saja, dan yang berjualan ramai di kanan-kiri. Saya pun menemukan tujuan saya di sini, yakni aksesoris. Di ujung pasar ini ada kerabat keluarga saya di sini, sehingga dari tak kenal menjadi kenal.

Sudah 8 hari saya di Medan dan saya cukup menikmatinya. Dan saya, jujur tertarik untuk kembali lagi ke Medan karena tak kalah menarik dengan di Jakarta. Barang-barang di pasar lokal di sana banyak ragamnya dan jarang bisa ditemukan di Jakarta, hehe… jadi saya pun mengincar lumayan banyak barang. Ooh, it’s time to go home, Jakarta. Tapi ada beberapa yang ingin saya sampaikan saat saya mengulik mengenai Medan.

1. Seperti yang tadi saya bilang, menawar di sana tidak bisa terlalu jatuh. Ini sudah terbukti di 2 pasar tradisional yang telah saya kunjungi.

2. Macet sana-sini membuat kita harus punya kesabaran lebih, baik dalam berkendara atau berjalan kaki. Macet di sana benar-benar bisa stuck tanpa gerak, persis dengan macet akut di Jakarta.

3. Kerabat di sana-sini. Sepulang dari Medan saya pun berdiskusi dengan teman yang asalnya dari Medan juga, dan ia mengakui di sana sangat dijunjung tinggi nilai kekeluargaan. Maka dari itu, sangat  mudah untuk menemukan sanak saudara di sana. Hal itu pun memungkinkan banyak teman-teman yang berdagang, dan siapa tahu kita bisa mencoba diberikan harga spesial? Hehe…

4. Kabarnya advertising di sana tidak kalah dengan di Jakarta. Ada yang bilang bahwa gaji untuk bekerja di Medan tidaklah tinggi seperti di Jakarta, tapi income-nya dapat dikatakan cukup tinggi. Berminat untuk bekerja di Medan?

5. Bahasa Mandarin seperti sudah jadi bahasa kedua di sana. Jadi jangan heran bila menemukan orang asli Indonesia yang fasih berbahasa Mandarin. Kita juga bisa sekaligus belajar bahasa bukan di sini?

6. Orang tidak akan tahan dengan makanan di Medan. Bukan karena tidak enak, melainkan karena enak dan beragam. Membuat kita jadi tak sabar untuk mencicipi semuanya. Dan awas, berat badan rancu naik lho… Hehe.

7. Bekerja. Orang Medan sangat rajin bekerja (kabarnya). Sehari-hari sebagian besar pasti bekerja. Ini bisa jadi contoh buat kita yang ada di Jakarta nih…

8. Kepercayaan. Saya menemukan sesuatu yang unik. Pedagang di sana begitu menaruh kepercayaan terhadap para pembelinya. Mereka tak segan membiarkan customer mereka membawa pulang barang untuk dilihat dan apabila memang tidak cocok, bisa dikembalikan tanpa membayar terlebih dahulu. Tradisi “menginap” ini jujur jarang banget bisa ditemukan karena butuh rasa kepercayaan (mempercayai ataupun dipercaya) yang sangat tinggi.

Menjelajahi Medan itu menarik sekali… Apalagi apabila kita sembari mengulik apapun lebih dalam tentang kota tersebut. Enggak cuma Medan, tapi semua tempat yang kita kunjungi. Lebih baik kita mendapatkan pengalaman baru dan cerita baru sehingga membuat kita bertambah wawasannya dibanding ke suatu tempat hanya karena didorong niat berbelanja saja. Ternyata banyak banget kan, yang bisa kita dapetin di sini… Selamat menikmati liburan!